Nama saya adalah Achmadnoer Sukma Wicaksana.
Biasa dipanggil Sukma.
Suka berteman dan suka tertawa.
Ingin selalu mencari tahu dan memberi tahu.
Ingin menjadi orang yang berguna,sukses dan bahagia

Sebuah keluarga makan malam. Anak bertanya kepada ayahnya.

Anak Laki-laki (AL) : Dad, berapa banyak jenis payudara ?

Ayah terkejut! Ayah menjawab.

Ayah (A): anakku di dunia ada tiga jenis payudara di umur 20 an seperti MELON, bulat dan kencang. Di umur 30’s ke 40’s, mereka sama seperti PIR, masih bagus namun tergantung sedikit. Setelah 50, mereka sama seperti BAWANG MERAH

AL : Haaaaaaah kok Bawang????

A :  Ya, kamu lihat payudara mereka dan akan membuat kamu menangis

Istri dan anak perempuannya geram, kemudian anak perempuan berkata.

Anak Perempuan (AP) : Mum, berapa jenis penis yg ada

Ibu terkejut. tersenyum dan menjawab

Ibu (I) : sayang, penis laki-laki berjalan melalui tiga tahapan. Diumur 20’s, penis laki-laki seperti sebuah pohon OAK, kuat dan keras. Di umur 30’s dan 40’s, seperti KABEL, fleksibel, namun dapat diandalkan. Di umur 50’s, adalah seperti sebuah POHON NATAL

AP : Haaaaaahh Kok seperti Pohon natal?????

I  : Iya, batangnya MATI dan bolanya hanya untuk HIASAN.

source : kaskus.us

Lelucon Payudara vs Testis

Hari Raya Idul Adha kali ini sangat berarti buat saya. Mungkin ini adalah titik balik dari kehidupan saya yang mana tekad saya untuk berubah semakin besar. Terutama saat mendengar khotbah sholat Ied yang sangat menggugah hati saya dan hampir membuat saya menangis.

Gema takbir mengiringi perjalanan pulang saya ke pelukan ibunda. Perjalanan memang sangat macet, sampai harus menggunakan shortcut untuk sampai tujuan. Sampailah kami di rumah pukul setengah dua belas malam. Melelahkan.

Pagi ini saya terbangun pukul 5 pagi, sholat subuh siap-siap memakai baju muslim dan segera berangkat ke masjid. Sesampainya di lapangan masjid senang rasanya, wah lapangan ini seperti lautan susu karena penuh dengan orang-orang memakai baju putih bersih dan duduk dengan rapi diiringi dengan lantunan takbir.  Lalu kami melaksanakan sholat Ied dan akhirnya mendengarkan khotbah.

Khotbah inilah yang ingin saya share, isi dari khotbah ini begitu menyentuh ketika suara dari khotib itu sampai ke telinga saya. Ada dua topik yang dipaparkan pada khotbah kali ini, yaitu jujur dan peduli sesama.

Jujur, inilah masalah yang mungkin merupakan masalah terbesar dari terpuruknya negara kita ini, Indonesia. Banyak ketidakjujuran yang terjadi, banyak orang yang akhirnya menyerah pada keadaan dimana mengakibatkan kita harus melalaikan kejujuran itu. Hari ini merupakan Hari Raya Idul Adha, gema takbir bergema dari kemarin malam hingga tadi pagi, namun bila hari yang kita lalui nanti adalah hari-hari biasa,akankah kita tetap melantunkan takbir tersebut? Saya rasa jawabannya tidak. Inilah permasalahannya, apabila takbir setiap hari menggema di hati kita saya rasa setiap individu akan selalu berlaku jujur.

Pada awal tahun 60an di Indonesia ada seorang perempuan membawa sejumlah uang untuk menabung di bank menggunakan becak. Di perjalanan becak tersebut tersandung dan kemudian uang berserakan di jalan. Penduduk setempat segera berlari dan menolong memungut uang tersebut. Saat diberikan pada teller di bank dan dihitung, tidak ada yang berkurang uangnya. Itu kejadian pada 40 tahun silam, akankah kejadian yang sama akan dapat terulang saat ini? Apakah semua orang akan mengembalikan semua uang yang dipungutnya? Saya ragu.

Alkisah, terdapat seorang pemuda bernama Ali. Dia setiap hari tidur di pinggir rel kereta beralaskan bumi. Seminggu berlalu, dia tetap tidur di pinggir rel kereta tersebut. Sebulan berlalu dia masih tetap tidur di pinggir rel kereta tersebut. Entah darimana dia mendapatkan makanan atau mungkin dia tidak makan sama sekali. Sampai suatu hari ada seorang pendeta datang, dia menawarkan tempat tidur yang layak, pakaian yang layak serta makanan yang cukup dengan syarat Ali harus berpindah ajaran agama dan mengikuti pendeta itu. Ali setuju.

Tak lama kemudian, Ali dijalan bertemu dengan Budi. Budi yang mengetahui kisah Ali ini lantas berkata “Hai Ali, begitu lemahnya iman kamu sehingga saat pendeta itu datang dan menawarkan bantuannya dengan segala syarat itu kamu menerimanya.” . Lalu Ali berkata “Siapa yang sesungguhnya lemah imannya? Saat saya membutuhkan pertolongan, saya hanya berharap akan datang seorang Muslim yang menawarkan bantuannya, saya hanya berharap Muslim itu memberi saya tikar rusak sehingga saya tidak harus beralas bumi. Namun apa? Apakah ada Muslim yang datang kepada saya menawarkan secercah harapan pada saya?”

Kawan, mendengar cerita diatas hati saya sungguh bergetar. Pernahkah kita berpikir, saat kita tidur di kasur kita dibalut dengan selimut yang hangat mungkin ada saudara kita yang sedang kedinginan di sekitar kita. Pernahkah kita berpikir saat kita dengan enaknya menghabiskan uang kita untuk makan enak di restaurant mungkin ada saudara kita yang untuk makan satu kali sehari pun sulit. Pernahkah kita berpikir saat kita menuntut ilmu di kampus ternama mungkin ada saudara kita yang untuk melanjutkan pendidikan sekolah dasar saja tidak bisa. Sakit sungguh sakit hati ini saat saya diingatkan akan hal itu.

Saya berdoa, berdoa agar kita semua diberi ketajaman penglihatan, ketajaman pendengaran dan ketajaman hati nurani. Apabila Nabi Sulaiman a.s mampu mendengarkan seekor semut yang sangat kecil maka saya hanya berdoa agar dengan ketajaman yang kita miliki tersebut maka kita akan dapat mendengar jeritan-jeritan saudara kita yang membutuhkan pertolongan kita.

inspired by Ustad H. Tarmidzi Firdaus

27 November 2009

The Holy Idul Adha

Many things happened lately.

Dari lingkup global,negara Indonesia, lingkungan kampus dan pada diri saya sendiri.

Semuanya membuat saya tersadar diri saya sangat lemah.

Masih banyak kekurangan pada diri saya.

Tapi sadar pun belum cukup sepertinya, saya harus berubah.

Sebenarnya ucapan untuk berubah itu sudah ada dari kemarin, seminggu yang lalu, satu bulan yang lalu, tiga bulan lalu.

Namun masalah selalu datang pada niatan,kurangnya niatan dan sifat malas ini yang membuat semua ini hanya omongan semata.

Ya, saya memang tidak kurang suka hal-hal yang berbau serius.

Ya, saya memang sukanya bermain-main dan tertawa.

Tapi saya bisa berubah, setidaknya saya ingin berubah menjadi lebih baik.

Saya ingin hari-hari saya diisi dengan hal-hal yang berguna.

Saya ingin bisa menyalurkan waktu luang saya dengan baik.

Saya ingin mencoba kembali membaca buku-buku bagus dan mungkin menulis.

Untuk itu saya buat janji tertulis ini kepada diri saya sendiri.

Agar setiap saya buka tumblr ini dan melihat tulisan ini saya selalu melihat bahwa saya punya janji untuk berubah.

Agar setiap kalian buka tumblr ini dan melihat tulisan ini kalian bisa melihat dan mengingatkan bahwa saya punya janji untuk berubah.



24-11-2009

Achmadnoer Sukma Wicaksana

Promise to Myself